You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan Jatimulyo
Kalurahan Jatimulyo

Kap. Girimulyo, Kab. Kulon Progo, Provinsi Di Yogyakarta

Selamat Datang Di Website Resmi Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo Mewujudkan Jatimulyo Segitiga Emas "Religius Mandiri Berbudaya" dengan Spirit Jogja Istimewa

Tradisi Tenong Ruwahan di Kalurahan Jatimulyo

Admin Kalurahan 20 Februari 2025 Dibaca 71 Kali
Tradisi Tenong Ruwahan di Kalurahan Jatimulyo

Tradisi Tenong Ruwahan di Kalurahan Jatimulyo: Menghormati Leluhur dan Mempererat Silaturahmi

Pada hari Kamis, 20 Februari 2025, warga Kalurahan Jatimulyo,tepatnya di padukuhan Sibolong melaksanakan salah satu tradisi tahunan yang sangat dinanti-nantikan, yaitu Tenong Ruwahan. Acara ini diselenggarakan di Masjid Jami' Al Hidayah dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat serta warga setempat, termasuk Penjabat (Pj) Dukuh Sibolong, Palapa Kalurahan Jatimulyo, Bapak RT dan RW, Kyai Toyib, S.Ag sebagai Rois, dan masyarakat Padukuhan Sibolong.

Kehadiran para tokoh tersebut memberikan warna tersendiri dalam acara ini. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari ritual tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan penting yang menekankan makna spiritual, budaya, dan sosial dari Tenong Ruwahan.

Sambutan dari Para Tokoh

Acara ini dibuka dengan sambutan dari beberapa tokoh masyarakat yang memiliki peran penting dalam kehidupan warga Padukuhan Sibolong.

  1. Pj Dukuh Sibolong mengawali sambutannya dengan mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan tradisi Ruwahan. Beliau menekankan pentingnya penghormatan terhadap leluhur dan bagaimana tradisi ini mencerminkan akhlak baik dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam sambutannya, beliau juga menekankan agar tradisi ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi menjadi wujud nyata bakti kita kepada orang tua dan leluhur.

  2. Palapa Kalurahan Jatimulyo kemudian menyampaikan sambutannya dengan menggarisbawahi peran masyarakat dalam mempererat tali persaudaraan melalui acara Tenong Ruwahan. Tradisi ini, menurut beliau, selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara warga. Melalui kegiatan seperti ini, kebersamaan dan gotong royong masyarakat dapat terus dipupuk, terutama dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial dan budaya di era modern.

Makna dan Filosofi Ruwahan

Acara inti dari kegiatan ini adalah pelaksanaan Ruwahan, sebuah tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa, termasuk di Padukuhan Sibolong. Ruwahan sendiri adalah sebuah upacara atau perayaan yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan, tepatnya setelah Nisfu Sya'ban. Tujuan utama dari tradisi ini adalah untuk mendoakan para leluhur yang telah berpulang, terutama orang tua yang sudah meninggal dunia. Ruwahan dianggap sebagai salah satu bentuk amal shaleh yang sangat dianjurkan dalam agama Islam.

Pada dasarnya, Ruwahan adalah hasil dari akulturasi antara budaya Jawa, Melayu Palembang, dan ajaran Islam. Hal ini terlihat dari ritual-ritual yang dilakukan, seperti ziarah kubur, membaca doa-doa khusus, serta pelaksanaan sedekah yang dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tradisi ini memiliki nilai spiritual yang sangat dalam, karena di dalamnya terkandung ajaran-ajaran tentang penghormatan kepada leluhur, memohonkan ampunan bagi mereka yang telah meninggal dunia, dan sebagai wujud dari rasa syukur atas nikmat kehidupan yang masih diberikan kepada kita.

Selain itu, Tenong dalam Tenong Ruwahan adalah wadah makanan tradisional yang digunakan untuk membawa berbagai hidangan. Warga membawa makanan yang ditempatkan di dalam tenong-tenong ini sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Setelah doa-doa dan tahlilan dilakukan, makanan tersebut kemudian dinikmati bersama-sama oleh warga sebagai bentuk rasa kebersamaan dan gotong royong.

Ruwahan Sebagai Tradisi Sosial dan Spiritual

Tradisi Ruwahan tidak hanya bermakna sebagai upacara keagamaan, tetapi juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Salah satu tujuan dari pelaksanaan Ruwahan adalah untuk mempererat tali silaturahmi di antara masyarakat. Kumpul-kumpul keluarga dan sanak saudara sering kali menghiasi pelaksanaan acara ini. Orang-orang yang tinggal di luar daerah biasanya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman demi mengikuti acara Ruwahan. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dan saling meminta maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan, sebuah bulan yang penuh dengan pengampunan dan rahmat.

Melalui acara ini, masyarakat dapat saling berbagi kebahagiaan, menciptakan rasa kekeluargaan yang semakin erat, dan tentu saja menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Nilai gotong royong juga sangat terlihat dalam acara ini, di mana setiap warga saling membantu mempersiapkan hidangan, membersihkan tempat acara, dan berpartisipasi dalam setiap rangkaian kegiatan.

Tidak hanya itu, dalam konteks kehidupan modern yang sering kali disibukkan oleh rutinitas pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, acara seperti Tenong Ruwahan menjadi momen penting bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dan merenungkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual. Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual, serta bagaimana kita seharusnya menghormati dan menghargai orang-orang yang telah mendahului kita.

Pelestarian Tradisi di Era Modern

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, menjaga kelestarian tradisi seperti Ruwahan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Banyak generasi muda yang mulai tergerus oleh budaya luar yang cenderung lebih individualis dan materialistis. Namun, acara seperti Tenong Ruwahan di Padukuhan Sibolong ini membuktikan bahwa tradisi yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan spiritualitas masih bisa dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Pentingnya pelestarian tradisi ini disampaikan pula oleh para tokoh masyarakat dalam sambutannya. Mereka berharap agar generasi muda tetap menghargai dan melanjutkan tradisi ini sebagai salah satu warisan budaya yang tidak ternilai. Karena melalui tradisi seperti Ruwahan, masyarakat dapat terus mengingat pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

Dengan demikian, Tenong Ruwahan di Kalurahan Jatimulyo bukan sekadar acara rutin tahunan, tetapi juga menjadi wujud dari upaya menjaga identitas budaya dan memperkokoh persaudaraan di antara warga. Semoga tradisi ini dapat terus dilaksanakan dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari khazanah budaya dan spiritual masyarakat Jatimulyo.

Tradisi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menghormati leluhur, mempererat tali silaturahmi, serta senantiasa berbuat kebaikan bagi sesama, baik di dunia ini maupun sebagai amal shaleh bagi kehidupan akhirat.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2024 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp3,178,444,418 Rp3,208,492,388
99.06%
Belanja
Rp3,195,365,243 Rp3,303,530,227
96.73%
Pembiayaan
Rp245,037,839 Rp245,037,839
100%

APBDes 2024 Pendapatan

Hasil Usaha Desa
Rp20,588,451 Rp30,000,000
68.63%
Hasil Aset Desa
Rp42,986,560 Rp25,000,000
171.95%
Dana Desa
Rp1,974,338,000 Rp1,974,338,000
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp130,769,080 Rp162,588,907
80.43%
Alokasi Dana Desa
Rp1,000,565,481 Rp1,000,565,481
100%
Bunga Bank
Rp4,938,846 Rp6,000,000
82.31%
Lain-lain Pendapatan Desa Yang Sah
Rp4,258,000 Rp10,000,000
42.58%

APBDes 2024 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp1,186,227,028 Rp1,250,599,388
94.85%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp1,432,105,415 Rp1,451,314,788
98.68%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan
Rp167,179,800 Rp175,416,051
95.3%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rp229,853,000 Rp230,200,000
99.85%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp180,000,000 Rp196,000,000
91.84%