
Tradisi Tenong Ruwahan di Kalurahan Jatimulyo: Menghormati Leluhur dan Mempererat Silaturahmi
Pada hari Kamis, 20 Februari 2025, warga Kalurahan Jatimulyo,tepatnya di padukuhan Sibolong melaksanakan salah satu tradisi tahunan yang sangat dinanti-nantikan, yaitu Tenong Ruwahan. Acara ini diselenggarakan di Masjid Jami' Al Hidayah dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat serta warga setempat, termasuk Penjabat (Pj) Dukuh Sibolong, Palapa Kalurahan Jatimulyo, Bapak RT dan RW, Kyai Toyib, S.Ag sebagai Rois, dan masyarakat Padukuhan Sibolong.
Kehadiran para tokoh tersebut memberikan warna tersendiri dalam acara ini. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari ritual tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan penting yang menekankan makna spiritual, budaya, dan sosial dari Tenong Ruwahan.
Sambutan dari Para Tokoh
Acara ini dibuka dengan sambutan dari beberapa tokoh masyarakat yang memiliki peran penting dalam kehidupan warga Padukuhan Sibolong.
-
Pj Dukuh Sibolong mengawali sambutannya dengan mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan tradisi Ruwahan. Beliau menekankan pentingnya penghormatan terhadap leluhur dan bagaimana tradisi ini mencerminkan akhlak baik dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam sambutannya, beliau juga menekankan agar tradisi ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi menjadi wujud nyata bakti kita kepada orang tua dan leluhur.
-
Palapa Kalurahan Jatimulyo kemudian menyampaikan sambutannya dengan menggarisbawahi peran masyarakat dalam mempererat tali persaudaraan melalui acara Tenong Ruwahan. Tradisi ini, menurut beliau, selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara warga. Melalui kegiatan seperti ini, kebersamaan dan gotong royong masyarakat dapat terus dipupuk, terutama dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial dan budaya di era modern.
Makna dan Filosofi Ruwahan
Acara inti dari kegiatan ini adalah pelaksanaan Ruwahan, sebuah tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa, termasuk di Padukuhan Sibolong. Ruwahan sendiri adalah sebuah upacara atau perayaan yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan, tepatnya setelah Nisfu Sya'ban. Tujuan utama dari tradisi ini adalah untuk mendoakan para leluhur yang telah berpulang, terutama orang tua yang sudah meninggal dunia. Ruwahan dianggap sebagai salah satu bentuk amal shaleh yang sangat dianjurkan dalam agama Islam.
Pada dasarnya, Ruwahan adalah hasil dari akulturasi antara budaya Jawa, Melayu Palembang, dan ajaran Islam. Hal ini terlihat dari ritual-ritual yang dilakukan, seperti ziarah kubur, membaca doa-doa khusus, serta pelaksanaan sedekah yang dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tradisi ini memiliki nilai spiritual yang sangat dalam, karena di dalamnya terkandung ajaran-ajaran tentang penghormatan kepada leluhur, memohonkan ampunan bagi mereka yang telah meninggal dunia, dan sebagai wujud dari rasa syukur atas nikmat kehidupan yang masih diberikan kepada kita.
Selain itu, Tenong dalam Tenong Ruwahan adalah wadah makanan tradisional yang digunakan untuk membawa berbagai hidangan. Warga membawa makanan yang ditempatkan di dalam tenong-tenong ini sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Setelah doa-doa dan tahlilan dilakukan, makanan tersebut kemudian dinikmati bersama-sama oleh warga sebagai bentuk rasa kebersamaan dan gotong royong.
Ruwahan Sebagai Tradisi Sosial dan Spiritual
Tradisi Ruwahan tidak hanya bermakna sebagai upacara keagamaan, tetapi juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Salah satu tujuan dari pelaksanaan Ruwahan adalah untuk mempererat tali silaturahmi di antara masyarakat. Kumpul-kumpul keluarga dan sanak saudara sering kali menghiasi pelaksanaan acara ini. Orang-orang yang tinggal di luar daerah biasanya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman demi mengikuti acara Ruwahan. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dan saling meminta maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan, sebuah bulan yang penuh dengan pengampunan dan rahmat.
Melalui acara ini, masyarakat dapat saling berbagi kebahagiaan, menciptakan rasa kekeluargaan yang semakin erat, dan tentu saja menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Nilai gotong royong juga sangat terlihat dalam acara ini, di mana setiap warga saling membantu mempersiapkan hidangan, membersihkan tempat acara, dan berpartisipasi dalam setiap rangkaian kegiatan.
Tidak hanya itu, dalam konteks kehidupan modern yang sering kali disibukkan oleh rutinitas pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, acara seperti Tenong Ruwahan menjadi momen penting bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dan merenungkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual. Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual, serta bagaimana kita seharusnya menghormati dan menghargai orang-orang yang telah mendahului kita.
Pelestarian Tradisi di Era Modern
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, menjaga kelestarian tradisi seperti Ruwahan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Banyak generasi muda yang mulai tergerus oleh budaya luar yang cenderung lebih individualis dan materialistis. Namun, acara seperti Tenong Ruwahan di Padukuhan Sibolong ini membuktikan bahwa tradisi yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan spiritualitas masih bisa dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Pentingnya pelestarian tradisi ini disampaikan pula oleh para tokoh masyarakat dalam sambutannya. Mereka berharap agar generasi muda tetap menghargai dan melanjutkan tradisi ini sebagai salah satu warisan budaya yang tidak ternilai. Karena melalui tradisi seperti Ruwahan, masyarakat dapat terus mengingat pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.
Dengan demikian, Tenong Ruwahan di Kalurahan Jatimulyo bukan sekadar acara rutin tahunan, tetapi juga menjadi wujud dari upaya menjaga identitas budaya dan memperkokoh persaudaraan di antara warga. Semoga tradisi ini dapat terus dilaksanakan dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari khazanah budaya dan spiritual masyarakat Jatimulyo.
Tradisi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menghormati leluhur, mempererat tali silaturahmi, serta senantiasa berbuat kebaikan bagi sesama, baik di dunia ini maupun sebagai amal shaleh bagi kehidupan akhirat.